flanflygirl.wordpress.com
<

Hari ini, sembari bermacet-macet ria di daerah Pondok Indah, radio memberitakan tentang kesehatan mantan presiden kita, Soeharto. Kurang lebih seperti ini “Ternyata ada infeksi di paru-parunya, kami berusaha bla bla bla… “ yang intinya para dokter-dokter negara itu berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkan pak Harto.

Setau saya, yang bermasalah tuh udah ginjal dan jantung. Sekarang tambah paru-paru. Tanpa sadar saya nyeletuk. “kasian ya jadi presiden, mau mati juga nggak dikasih mati… kalau dokternya hebat mah, tiap ada sakit di mana pasti langsung diobatin…” dan saya selalu membayangkan, bagaimana jadinya nasib bapak presiden kita ini. apakah ia akan meninggal karena usia tua, meninggal karena komplikasi pernyakitnya, atau meninggal karena kebanyakan obat bius yang disuntikkan,,,

Bukannya saya mengharapkan Soeharto untuk meninggal secepatnya loh. Saya sendiri ga punya dendam pribadi gimana. Dia korupsi, meskipun saya kena dampaknya, tapi toh saya ga merasa kena dampak, soalnya saya masih kecil pas itu, belum ngerti apa-apa. Dan kenyataannya saya masih survive, orang tua masih survive. Kita hidup pas-pasan tapi bahagia. Tapi di radio tadi, diberitakan tentang orang-orang yang mengalami pelanggaran HAM selama jaman Soeharto. Mereka berharap Soeharto tetap hidup supaya ia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

          That time I was thinking, what could an old hag do to satisfy your vengeance?

          Namun dendam ya dendam. Saya bukannya nggak ngerti. Pertanyaan di atas tidak bersikap seakan-akan para korban pelanggaran HAM itu adalah seorang pendendam atau tidak berbudi baik juga. Ini hanya sekelumit kehidupan yang berputar di bumi. Semua orang berbuat kesalahan dan saling mendendam. Semakin umur bertambah semakin kita terseret dalam arus tak berkesudahan ini…

Dan kembali pikiran dan imajinasi ini berputar ke mana-mana. Jadi ingat, keinginan saya dulu sangat sederhana.

Saya ingin diakui oleh dunia. Saya ingin eksistensi saya bertahan di dunia setelah saya meninggalkan dunia.

Kebanyakan orang sejak dulu memutuskan bahwa saya cocok sekali menjadi: Dokter. Mungkin mereka menyadari jiwa saya yang senang membantu orang, atau mungkin guru-guru sekolah itu cuma ingin sekolahnya terkenal karena ada lulusan dokter.  Tapi bagaimanapun saya sendiri menyadari konflik yang akan saya hadapi kalau saya benar-benar jadi dokter nanti… saat menjadi dokter, nyawa pasien ada di tangan anda. Untuk menjadi seorang dokter, jiwamu harus benar-benar murni dari segala dendam dan benci, ketenangan menjadi prinsip hidup, ketelitian menjadi satu-satunya mata batin anda.

          Jadi dokter uangnya banyak lho!

Itu tidak sepenuhnya salah. Kecuali saya nanti ditempatkan di pedalaman. Tapi saya mulai merasakan konflik dalam batin saat itu, bagaimana ya?

-         Suatu saat kalau misalnya saya jadi dokter di rumah sakit, terus ga ada yang berobat, apakah saya akan berharap seseorang akan sakit?

-         Bagaimana ya jika orang miskin dengan penuh penyakit datang, kemudian minta diobati sama saya, saya dokter, tapi saya bukan empunya rumah sakit, jadi sekalipun bisa ngobatin, tapi saya ga punya alatnya.

Ada

kemungkinan saya semiskin orang miskin itu. Jadi apakah saya tolak aja? Atau saya akan mengusahakan? Apakah nanti saya bakal dipecat gara-gara itu?

Saya yang memutuskan dan saya percaya. Jalur hidupku tak ada di situ. Saya senang bermain dengan uang. Bukan berarti saya mata duitan. Tapi karena saya percaya, uang ini suatu saat bisa saya hambur-hamburkan untuk orang lain. Secara analogi, saya memutuskan, uang itu harus jatuh ke tangan orang yang benar supaya bisa diputar dengan lebih baik.

          Saya memutuskan untuk jadi empunya rumah sakit daripada jadi dokter.

Fin.

January 11th, 2008 at 10:54 am


One Response to “Dokter”
  1. 1
      anggri says:

    hahahahahaha