Aku sedang menjalani hukuman kemunafikanku.
Tembok yang susah-susah kubangun… hancur berkeping-keping…
Padahal sudah kujaga baik-baik…
Benar-benar orang gagal
Tapi aku pasti tidur nyenyak
Karena tangisan selalu membuatku kelelahan
Semoga tidak membuatku mati dehidrasi
Sekarang menghadapinya setiap hari
Mungkin sampai 1 tahun ke depan
Semoga masih ada waktu
Untuk mempertanggungjawabkan kesalahan fatal ini
Setiap hari otakku memerintahkan
“tabrakkan dirimu ke mobil itu”
Padahal aku lewat banyak jalan besar tiap hari
Aku berusaha menahannya dengan sedikit akal sehatku
Setiap malam terasa menakutkan sampai menangis
Perasaan itu muncul di setiap kegelapan
Padahal malam datang selalu
Lampu kamar pun harus selalu dimatikan kalau sudah malam
Leher terasa mencekik dirinya sendiri
Lambung mulai menolak bekerja lagi
Hati…
Apa itu hati?
Oh, sudah dikuburkan bersama indahnya perasaan itu
Aku membayarnya
Selalu aku sendiri
Aku bangga, karena banyak orang bahagia karenaku
Tapi hati nurani memarahiku, katanya
“kau mencoba bunuh diri ya!!”
“tak ada jalan laiu” belaku
Memang tak ada jalan lain
Semuanya hanya kebohongan
Aku akan mati
Mungkin besok?
Semoga aku tidur nyenyak
Tadi hampir ditabrak motor
Tapi aku dengan bangganya melompat ke arahnya
Bodoh, jangan-jangan aku memang ingin mati
Mengerikan
Apa kata temanku nanti
Oh, iya, tentu saja
PENGECUT
Hari ini, perasaan tidak ada yang terkontrol dengan baik. Aku duduk dengan tatapan kosong di bus. Protes pada Tuhan, kenapa hatiku begitu sakit. Biasanya tidak begitu. Beberapa jam sembuh. Beberapa hari sembuh. Yang ini… tidak sembuh-sembuh. Aku meratap pada Tuhan, mengenai betapa menderitanya diriku. Tiba-tiba, seorang anak kecil menabrakku. Rupanya ia kesulitan untuk naik bus. Aku berusaha membantunya. Ia cacat. Tapi tetap berusaha naik.
Tuhan berkata “Apa yang kau lakukan? Anak itu saja berusaha. Masa kau tidak?”
Aku tersadar dari lamunan
Apa itu?
Tuhan berkata “Aku mengirimkan teman-temanmu. Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar tidak menghargai pemberianku”
Tangisan dalam hati mulai terdengar
Sesampai di rumah
Aku menangis lagi
Aku benar-benar tidak pernah bersyukur
Aku… akan berusaha tersenyum lagi… tidak apa harus menangis tiap malam
Aku punya mereka
Teman baik selamanya tidak akan berpisah
… sudah hampir malam lagi …
… apa yang harus kulakukan …
… takut sekali…
trying is different
July 5, 2007 @ 8:18 amlife never gone easy
die is something easy
but u know that easinesses never bring u anything
just believe what u believe and do what u have to do
you reap what u sow
now you are sowing painful memory and tear
in the future u will reap a strong and independent behavior
some skill that everyone want to have
Thank you…
July 7, 2007 @ 1:49 am