Seorang anak manusia terbangun di suatu subuh
Hatinya kesal. Ia bertanya-tanya,
Kenapa temannya berkata bahwa awan itu tidak putih
Kemudian ia pergi ke gereja
Sepanjang jalan ia memandangi awan dan langit
Ada tiga warna di langit pagi itu
Putih, biru, dan kelabu
“Yang putih pasti awan, Yang biru pasti langit”
Begitu pikirnya
“Tapi apa itu yang kelabu? Apakah awan, apakah langit?”
Di tengah jalan, ia berpapasan dengan seekor anjing
Anjing itu mengonggong
“Yang putih itu bukan awan”
Anak manusia itu kesal
Pohon bertanya kepadanya
“Kenapa kau bilang awan itu putih?”
Anak manusia itu terdiam
“…Itulah kepercayaanku”
“Sejak kecil, setiap hari, setiap minggu, aku diingatkan…”
“Bahwa awan itu putih”
Begitulah akhir jawabnya
Anak manusia menjadi bimbang
“Benarkah prinsipku ini Tuhan?”
Tuhan tersenyum lembut
“Aku menghormati prinsipmu”
Anak manusia tersenyum
Merasa mendapatkan dukungan dari Tuhan
Ia melanjutkan perjalanannya
Setelah itu datanglah matahari
Hangat dan menyenangkan
Anak manusia berpikir
“Matahari akan menunjukkan bahwa awan itu putih”
Ternyata tidak
Matahari berkata,
“Yang putih itu langit, yang biru juga langit. Yang kelabu itulah awan”
Anak manusia tersentak
“Tidak mungkin!!! Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk”
“Awan berwarna kelabu sangat buruk! Itu bukan awan!”
Anak manusia mempertahankan prinsipnya
Ia bertanya pada Tuhan
“Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?”
“Bukankah Engkau berkata prinsipku ini benar?”
Tuhan menjawab,
“Aku tidak mengatakan prinsipmu itu benar”
“Aku menghormatinya”
“Aku menunggumu menemukan matahari”
Anak manusia marah
“Tetapi Tuhan, aku sudah keburu menetapkan prinsipku!!”
“Prinsipku tidak bisa diubah lagi!!”
“Kenapa Tuhan tidak mengatakannya dari awal…”
“Aku sudah mengatakan kepada semua temanku bahwa awan itu putih!”
“Mana mungkin aku mencabut perkataan dari prinsipku ini!!”
Tuhan tersenyum lagi,
“Anakku, inilah yang ingin kutunjukkan”
“Sifatmu yang keras kepala dan tak mau kalah itu”
“Pernahkah sekalipun kamu menundukkan kepalamu dan menerima kenyataan?”
“…”
“Prinsipmu yang kau terima begitu saja itu…”
“Pernahkah kau berpikir, prinsipmu menyebabkan orang lain menderita?”
“Pernahkah kau berpikir, orang lain yang memiliki prinsip yang berbeda tetap tersenyum kepadamu dan berkata –aku menghormati prinsipmu-“
“Pernahkah kau berpikir, bahwa orang yang menghormati prinsipmu, tersakiti oleh prinsipmu, dibunuh perlahan oleh prinsip hidupmu yang angkuh dan hebat itu?”
Anak manusia terdiam
Kali ini ia benar-benar menundukkan kepala
Gereja sudah di depan matanya
Ia masuk ke dalamnya
Berdoa
Dan memandang awan
Awan-awan itu
Berwarna jingga kelabu
Disinari cahaya matahari
Sangat indah
Anak manusia menyadari
Awan itu tidak selalu putih
Prinsipnya membutakan hatinya
Anak manusia tersenyum
Ia akan hati-hati membangun prinsipnya
Tidak dipengaruhi orang tua
Tidak dipengaruhi teman
Tidak dipengaruhi pastur
Tidak dipengaruhi
Ia akan menjalani hidupnya
- Going on with Living #1 -
Hari ini Tuhan menjelma menjadi awan, matahari, dan langit
Sunday, 5.30 a.m. dawn, Pamulang
pegang teguh prinsip u
March 11, 2007 @ 7:12 amtp inget kl setiap org punya prinsip. jgn memaksakan prinsip u ke org laen. ke aneka ragaman prinsip itu lah yg membuat manusia berbeda satu sama lain.
hehehe… gw ga ngetawain isinya koq, tp….
March 16, 2007 @ 12:15 amapa sih maksud lo, ka? btw, balikin second raid gw! maw nonton Yakitate di dalamnya neeh
March 16, 2007 @ 9:08 am