flanflygirl.wordpress.com
<

Seorang anak manusia terbangun di suatu subuh

Hatinya kesal. Ia bertanya-tanya,

Kenapa temannya berkata bahwa awan itu tidak putih

Kemudian ia pergi ke gereja

Sepanjang jalan ia memandangi awan dan langit

Ada

tiga warna di langit pagi itu

Putih, biru, dan kelabu

“Yang putih pasti awan, Yang biru pasti langit”

Begitu pikirnya

“Tapi apa itu yang kelabu? Apakah awan, apakah langit?”

Di tengah jalan, ia berpapasan dengan seekor anjing

Anjing itu mengonggong

“Yang putih itu bukan awan”

Anak manusia itu kesal

Pohon bertanya kepadanya

“Kenapa kau bilang awan itu putih?”

Anak manusia itu terdiam

“…Itulah kepercayaanku”

“Sejak kecil, setiap hari, setiap minggu, aku diingatkan…”

“Bahwa awan itu putih”

Begitulah akhir jawabnya

Anak manusia menjadi bimbang

“Benarkah prinsipku ini Tuhan?”

Tuhan tersenyum lembut

“Aku menghormati prinsipmu”

Anak manusia tersenyum

Merasa mendapatkan dukungan dari Tuhan

Ia melanjutkan perjalanannya

Setelah itu datanglah matahari

Hangat dan menyenangkan

Anak manusia berpikir

“Matahari akan menunjukkan bahwa awan itu putih”

Ternyata tidak

Matahari berkata,

“Yang putih itu langit, yang biru juga langit. Yang kelabu itulah awan”

Anak manusia tersentak

“Tidak mungkin!!! Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk”

“Awan berwarna kelabu sangat buruk! Itu bukan awan!”

Anak manusia mempertahankan prinsipnya

Ia bertanya pada Tuhan

“Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?”

“Bukankah Engkau berkata prinsipku ini benar?”

Tuhan menjawab,

“Aku tidak mengatakan prinsipmu itu benar”

“Aku menghormatinya”

“Aku menunggumu menemukan matahari”

Anak manusia marah

“Tetapi Tuhan, aku sudah keburu menetapkan prinsipku!!”

“Prinsipku tidak bisa diubah lagi!!”

“Kenapa Tuhan tidak mengatakannya dari awal…”

“Aku sudah mengatakan kepada semua temanku bahwa awan itu putih!”

“Mana mungkin aku mencabut perkataan dari prinsipku ini!!”

Tuhan tersenyum lagi,

“Anakku, inilah yang ingin kutunjukkan”

“Sifatmu yang keras kepala dan tak mau kalah itu”

“Pernahkah sekalipun kamu menundukkan kepalamu dan menerima kenyataan?”

“…”

“Prinsipmu yang kau terima begitu saja itu…”

“Pernahkah kau berpikir, prinsipmu menyebabkan orang lain menderita?”

“Pernahkah kau berpikir, orang lain yang memiliki prinsip yang berbeda tetap tersenyum kepadamu dan berkata –aku menghormati prinsipmu-“

“Pernahkah kau berpikir, bahwa orang yang menghormati prinsipmu, tersakiti oleh prinsipmu, dibunuh perlahan oleh prinsip hidupmu yang angkuh dan hebat itu?”

Anak manusia terdiam

Kali ini ia benar-benar menundukkan kepala

Gereja sudah di depan matanya

Ia masuk ke dalamnya

Berdoa

Dan memandang awan

Awan-awan itu

Berwarna jingga kelabu

Disinari cahaya matahari

Sangat indah

Anak manusia menyadari

Awan itu tidak selalu putih

Prinsipnya membutakan hatinya

Anak manusia tersenyum

Ia akan hati-hati membangun prinsipnya

Tidak dipengaruhi orang tua

Tidak dipengaruhi teman

Tidak dipengaruhi pastur

Tidak dipengaruhi

Ia akan menjalani hidupnya

- Going on with Living #1 -

Hari ini Tuhan menjelma menjadi awan, matahari, dan langit

Sunday, 5.30 a.m. dawn, Pamulang

March 10th, 2007 at 6:07 pm


3 Responses to “Awan Putih dan Matahari”
  1. 1
      Henri says:

    pegang teguh prinsip u
    tp inget kl setiap org punya prinsip. jgn memaksakan prinsip u ke org laen. ke aneka ragaman prinsip itu lah yg membuat manusia berbeda satu sama lain.

  2. 2
      ika says:

    hehehe… gw ga ngetawain isinya koq, tp….

  3. 3
      Fiona says:

    apa sih maksud lo, ka? btw, balikin second raid gw! maw nonton Yakitate di dalamnya neeh