flanflygirl.wordpress.com
<

Setidaknya, itulah judul suatu berita di Australia mengenai ibukota yang kita agungkan sebagai pusat perekonomian Indonesia ini. Dalam satu malam, air berhasil melumpuhkan seluruh Jakarta dan perekonomiannya. BEJ lumpuh total dalam satu hari. Rumah-rumah terendam. Aku ingat ibuku mengatakan “bahkan perumahan elit pun terendam” yang artinya, air tidak pilih kasih. Beberapa orang berkata “Mungkin Tuhan sedang marah kepada kita”.

Bagiku tidak demikian. Tuhan tidak marah. Ia tidak melakukan apa-apa. Ini adalah efek timbal balik dari perbuatan manusia. Alam mengembalikan apa yang telah kita perbuat kepadanya. Apa yang telah kita lakukan?
1.Sampah dan limbah dibuang ke sungai, ke tempat di mana air mengalir
2.Tempat resapan air dibangun menjadi tempat tinggal
3.Hutan digunduli.

Tuhan tidak melakukan apa pun bukan? Semua orang tahu akibat dari 3 hal yang kusebutkan di atas. Malahan Tuhan menolong kita saat kita butuh bantuan. Kita berdoa padanya supaya diselamatkan dari banjir. Ia menyelamatkan kita. Kita tidak jera juga.

“Air – begitu peka akan frekuensi unik yang dipancarkan dunia – secara essensial dan efisien mencerminkan dunia luar” [Masaru Emoto, Hidden Message of Water, 2006]. dan juga sekali lagi ditekankan bahwa eksistensi adalah getaran. Meja bergetar, kursi bergetar, kucing bergetar, manusia bergetar. Semua di alam ini memiliki frekuensi. Percobaan yang dilakukan Masaru Emoto berhasil membuktikan efek semua getaran ini terhadap air. “Ketika kepada air ditunjukkan sebuah kata tertulis, air menerimanya sebagai getaran dan mengungkapkannya pesannya dalam pesan spesifik… Air yang dipaparkan kata ‘Terima kasih’ membentuk kristal geometri yang indah, apapun bahasanya. Tetapi air yang dipaparkan ‘kamu bodoh’ dan kata-kata melecehkan lainnya menghasilkan kristal yang jelas terbelah dan tidak berbentuk sempurna.” [Masaru Emoto, Hidden Message of Water, 2006]

Saat membaca buku ini, rasa takjub menyelimuti diriku. Ternyata selama ini air menyimpan rahasia alam semesta. Kita bisa mengasumsikan bahwa saat terbentuk kristal yang sempurna, maka airnya selaras dengan alam dan kehidupan. Namun, saat tidak terbentuknya kristal, berarti kita gagal mengingat hukum-hukum alam ini. (Baca deh bukunya untuk lebih jelas)

Pengetahuan baru di atas itu benar-benar mencengangkan buatku. Kemudian, pembuktian berikutnya membuatku lebih takjub lagi. “Sebenarnya, alat deteksi getaran pertama yang saya perkenalkan di Jepang telah melangkah lebih jauh dalam membuktikan hal ini. Alat ini mampu mengukur getaran unik yang dipancarkan di sekitar kita dan kemudian menyalinnya ke air. Saya mampu mengukur getaran yang datang dari banyak orang berbeda, dan menyadari bahwa getaran-getaran negatif yang kita pancarkan selaras dengan getaran-getaran yang dipancarkan oleh berbagai unsur. Misalnya, getaran yang diciptakan oleh kekesalan setara dengan getaran merkuri (raksa), kemarahan setara dengan timbal, dan kesedihan setara dengan aluminium. Begitu pula, ketidakpastian berkaitan dengan kadmium, putus asa dengan baja, dan stress dengan seng…. Tidak ada orang yang bebas sepenuhnya dari pikiran negatif. Kita semua membawa ingatan leluhur masa lalu, dimulai dari munculnya manusia pertama, dan kita semua ditakdirkan untuk mewarisi sebagian dari negativitas mereka.” [Masaru Emoto, Hidden Message of Water, 2006]

Lalu, bagaimana kita bisa menghapus semua negativitas dalam diri kita? “Ada kesejajaran prinsip ini bagi emosi manusia. Untuk setiap emosi negatif, terdapat satu emosi positif lawan. Daftar berikut mencatat emosi-emosi yang menciptakan frekuensi yang tepat berlawanan:
benci syukur
marah keramahan
dsb. (baca sendiri di bukunya)
Karena itu, kita mungkin menyadari orang-orang yang pemarah cenderung mudah menangis, seseorang yang baik tiba-tiba melakukan tindak kriminal.

…dan banyak lagi yang harus dikatakan oleh air yang tidak bisa kutuliskan dalam satu tulisan blog ini. Bagaimana prinsip penyembuhan dengan air, bagaimana air dapat menyembuhkan racun mengerikan dalam tubuh. Dsb.

Mengetahui air bereaksi terhadap frekuensi manusia dan benda-benda di sekitarnya. Aku menyimpulkan bahwa air di Jakarta pasti gagal membentuk kristal. Lihat saja airnya. Inilah hasil dari frekuensi negatif pikiran manusia.

Air tidak melakukan kesalahan apapun. Ia mengikuti hukum alam, mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Kita yang melakukan kesalahan. Kita gagal mengingat hukum alam yang sudah diajarkan sejak sekolah dasar ini. Kita menutup tempat rendah itu dengan segudang kemewahan kita, dengan listrik, dengan semen… Sedangkan air, ia hanya ingin pergi ke tempat yang lebih rendah. Itu saja. Seiring waktu ia menerima kutukan dan hinaan dari manusia. Tujuannya tidak berubah. Ia bergerak sesuai hukum alam. Hukum mutlak di bumi ini.

-__- ini peringatan ketiga bagi Jakarta. Jika tidak ada penanganan juga, sebaiknya jangan mengeluh. Siklus banjir sudah sama dengan pemilu Indonesia. Sekalian saja tambahkan libur nasional untuk hari banjir seJakarta dan adakan pesta rakyat untuk memperingatinya.

The End
“Banjir kali ini memberikan makna bagi setiap orang. Bagiku, ia seperti guru les tambahan yang memaksaku berpikir apa yang sudah kulakukan selama ini. Dan aku menyadari, hidupku tidak terlalu berguna. Aku hanya bermain dan bermain. Aku menjadi tergantung pada listrik dan kenikmatan fasilitas. Padahal banyak hal di luar yang belum kulakukan. Kemudian aku menyesal, aku berpikir apa yang dapat kulakukan? Apa?”
Tuesday, February 06, 2007, 7:16 PM

February 6th, 2007 at 4:26 am


3 Responses to “Jakarta Underwater”
  1. 1
      NANAmi says:

    wah blognya berat.. yah, bgtulah, Tuhan sedang marah… insyaallah ngga nambah parah.. dan semoga orang2 bs terselamatkan ya…

  2. 2
      PriSteTen says:

    Fiii, kamu kebanjiran nggaaakkk??? Soalnya yang gue tau rumah loe kan sulit banget dijangkau… aduh,,, moga2an rumah loe baek2 aja yakkkzzz…. CU girls.. have funn and nice dayss…

  3. 3
      Fiona says:

    yaah. gitulah ^^ Jakarta emang underwater. Tapi pamulang kan nggak. Soalnya gw udah tobat, ga buang sampah sembarangan lagi. hehe. have a nice day too ^^