PROLOGUEnyaaaaaaaaaaaaaaa
Hari ini moodku sudah normal lagi. Terima kasih kepada yang sudah menemaniku kemarin sepanjang masa-masa sulitku itu… Kemarin aku senang sekali mendengar cerita teman lama mengenai universitas barunya, sampai tidak bisa berhenti tertawa. Akibatnya, perusahaan penyedot uang melalui “sms temanmu” mengadakan perayaan besar naiknya uang yang akan mereka terima dari ayahku. Gomenn… m(_ _)m …
Karena kegembiraan yang berlebihan, malam harinya, moodku hancur karena kelelahan luar biasa. Ditambah lagi, semua sms yang kuterima membuat moodku tambah hancur, jadilah para MSNers korban berikutnya. Terima kasih MSNers yang sudah mendengarkan semua keluhanku kemarin… maaf… sekali lagi… ^^
Hari ini rapat SimBiz. Keterlambatan beberapa orang membuat ketua naik darah. Shares memang paling banyak, tapi tingkat stress juga paling tinggi. Semua bekerja keras kok. I guess… [eh, boss production gw datang telat juga kayaknya]. Btw, ayo sponsorship divisiiiiion!!! Ganbatte!!! Event division mengandalkan kalian untuk menghasilkan event yang bagus. hehehe.
Maaf… buat yang udah pada ngajakin ke Dufan n Mangdu… > <; ga tau cara pulangnya aku. Dulu sih pergi barenk anak Pamulang, jadi bisa pulang tengah malem. Waduuh…
Hari ini berniat turun di Poins, terus ke rumah Edven. Mau cari earphone Handphone baru, abis itu main. Tapi ketika sudah lewat, badan malas bergerak dari bus. Ya sudahlah. Dibawalah diriku sampai Ciputat oleh Koantas Bima. Turun di pom bensin. Langsung naik angkot, ga ke rumah Edven lagi. Abis telponnya kagak diangkat-angkat… Eh, ga tawnya dia nelpon, ngasi tau kalo dia lagi di Anggrek. TAW GINI GW NEBENG KE SYAHDAN!!!! AAAAAA…
CONTENTnyaaaaaaaaaaaaaaaa
Ehem… Di sini dimulailah cerita baru. Naik angkot, tidak lama kemudian, naiklah seorang anak laki-laki bersama ibunya. Anaknya masih kecil. Seperti tipikal anak lainnya, penuh rasa ingin tahu. Ia menunjuk ke bus-bus yang tanpa rasa bersalah “ngetem” di jalan Ciputat dan menyebabkan generasi Indonesia yang tinggal di Pamulang dan sekitarnya mendapatkan pelajaran penting yaitu kesabaran menghadapi kemacetan Indonesia. “Mama, itu mobil gede” kata anak itu. Si ibu menjawab “Iya, mobilnya lagi pada mogok. Kasihan ya…”. “Hah! Yang benar saja, Ibu. Jangan membohongi anakmu deh. Hey anak kecil, kau tidak akan percaya begitu saja kan…” kataku dalam hati. Tentu saja si anak percaya. Ia menatap lamaaaa penuh simpati kepada para “mobil gede yang mogok itu”. Angkotku melaju lambat berkat bus-bus itu, dan mereka mendapat tatapan belas kasihan dari seorang anak kecil yang polos. Sekarang aku mengerti kenapa para advertiser mau memasang iklan mereka pada bus-bus. Itu karena mereka suka “ngetem” tanpa aturan. Aku bahkan masih ingat iklan di bus-bus itu. “Pakai Cap Lang…”, “Pakai Cap Lang…”, dan sebuah bus lain dengan kata-kata “Kopi apa yang bikin gatel?”.
Angkot tetap melaju dengan kecepatan 30 km/jam. Melewati Ramayana. Ya Tuhan… kali ini ada lima buah bus yang “ngetem” di depan gedung yang tiba-tiba kebakaran saat ibuku sedang mengandungku dan membawaku berjalan-jalan ke sana. Kurasa Ramayana tidak menyukaiku. Anak tadi langsung menunjuk lagi “Mama, itu mobil gede ke Sukabumi,” “Ma, kok mobilnya ga jalan?” anak itu tidak henti-hentinya menunjuk pada mobil-mobil itu. “Nah ibu, apa lagi yang mau kaukatakan?” aku bertanya dalam hati sambil menatap ibu itu. Si ibu menjawab “itu sopirnya lagi pada tidur. Cape. Kasihan ya” “…..” aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Anak itu sepertinya bosan. Atau ia menyadari kehadiranku kali ini. Ia balik menatapku lama. Penuh tanda tanya. Kemudian tertawa. Aku balas menatapnya sambil berkata dalam hati “Lu diboongin tauk!!” tapi tentu saja tatapanku ramah dan tidak menyiratkan hal itu. Sambil menatapnya aku ingat ibuku sering membohongiku juga “Beri-beri itu penyakit kekurangan vitamin B [yang ini bener].” “Beri-beri itu kayak gimana, Ma?” tanyaku [umurku 4 tahun]. “kayak benjolan. Kalau kamu pegang, nanti tanganmu ga bisa lepas lagi”. Aku percaya. Dan karena aku adalah anak yang senang berbagi, aku menceritakannya kepada teman-temanku. Dan mereka percaya. Karena tampangku tentu saja menunjukkan “Aku benar. Ibuku yang mengatakannya”. Ini membuatku merasa seperti pembual saat aku mengetahui kebenarannya. Dan masih banyak lagi takhayul-takhayul indah yang diceritakan.
Yah… tidak bisa juga sih seorang ibu mengatakan kebenaran kepada seorang anak kecil. Hmm, saat seorang ibu dengan logika luar biasa tinggi berbincang-bincang dengan anaknya, mungkin seperti ini dialognya:
Anak
“Mama, itu mobil gede”
Ibu yang hidup dengan logika
“Bukan anakku, mobil gede itu namanya bus. Bus-bus itu berhenti seenaknya di jalanan pasar dan menyebabkan pemanasan global dan sebenarnya membunuhmu perlahan-lahan dengan gas CO yang diproduksinya disebabkan oleh pembakaran tidak sempurna saat berhenti tanpa mematikan mesin.
Anak
” ………? Mama. Aku mau minum es”.
Ibu yang hidup dengan logika
“Itu adalah salah satu dampaknya, anakku. Pemanasan global menyebabkan dehidrasi dalam tubuhmu yang masih kecil.”
Anak
“??? Mama, aku ga ngerti mama ngomong apa…”
Ibu yang hidup dengan logika
” (dengan sedih) dan itu juga mempengaruhi kecerdasanmu karena gas CO yang kau hirup itu menghambat pengikatan hemoglobin dalam darah dan menghambat laju peredaran darah ke dalam otak… Oh, anakku yang malang… (mulai berkaca-kaca)”
Anak
“…………………………………….. (melihat ke arah lain). Mama, itu mobil gede ke Sukabumi. Ma, kok mobilnya ga jalan?”
Ibu yang hidup dengan logika
“(menangis tersedu-sedu). Oh anakku…”
Anak
“Ma??”
Kemudian kedua anak ini bertemu di mobil jemputan TK dan membicarakan “mobil-mobil gede” itu suatu hari saat melewatinya lagi.
Anak yang dibohongin ibu
“Eh, ada mobil gede”
Anak yang dberitahu kebenaran
“Iya. Ada banyak mobil gede. Kok mobilnya ga jalan ya…”
Anak yang dibohongin ibu
“Soalnya mobilnya lagi mogok”
Anak yang diberitahu kebenaran
“Ooooo… gitu toh. (melihat ke arah lain). Eh, itu mobil gede yang ke Sukabumi. Kok mobilnya ga jalan yah.”
Anak yang dibohongin ibu
“Ooo, itu karena sopirnya lagi pada cape. Jadi tidur deh.”
Anak yang diberitahu kebenaran
“Oh, gitu. Siapa yang kasih tau kamu?”
Anak yang dibohongin ibu
“(dengan bangga). Mamaku donk!”
Anak yang diberitahu kebenaran
“Wah, kamu hebat ya. Aku nggak ngerti kalau mamaku ngejelasin aku. Berarti mamamu hebat ya.”
Anak yang dibohongin ibu
“iya donk! (tambah bangga)”
Anak yang diberitahu kebenaran
“Lain kali aku tanya mamamu aja deh. Eh. Aku punya permen. Mau nggak?”
Anak yang dibohongin ibu
“Mau! Mau!”
Pertanyaan setelah membaca blog ini : Anak mana yang bodoh? Yang dibohongi ibunya atau yang diberitahu kebenarannya?. [jawab pertanyaan ini di comment, setelah membaca blog ini. Dimohon bantuannya. Karena aku juga bingung... hehe]
Sekian dulu blog kali ini. Pesanku untuk para calon bapak dan calon ibu. Pilihlah jalan terbaik menjawab pertanyaan anakmu kelak. Huakakakakakak. … V(^_^)V… Peace man!
The End
“The more you go within, the more you understand your true nature, and the more joy and happiness you feel in your life [Richard Carlson and Benjamin Shield].”
“Kurasa… kalau aku tidak dibohongi dulu, aku tidak akan menulis blog seperti ini [Fiona Liausvia]”
“Tidak mudah menerangkan hening dan sepi melalui logika dan kata-kata. Ia sama tidak mudahnya dengan menerangkan perasaan jatuh cinta kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Jantung berdebar, seperti habis berlari pagi? Bukan! Kalau jatuh cinta gagal diterangkan oleh logika dan kata-kata, apalagi menerangkan hening dan sepi. [Gede Prama]”
“Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Karena itu kadang-kadang cara terbaik menjelaskan sesuatu adalah dengan membiarkan si penanya mengalami hal itu sendiri [Fiona]”
ahaha. tulisannya bagus! gue suka deh.
gue juga mengalami hal yg sama setiap hari soalnya..
have a happy life, fi!
January 18, 2007 @ 7:03 amAnak mana yang bodoh? Yang dibohongi ibunya atau yang diberitahu kebenarannya?.
jwaban gw : anak yang bodoh itu dua2nya,
pertama. si malang yg dibodohi ibunya, dengan hidup dlm logika kebohongan ibunya… ya bodoh lah kalo nasibnya di gituin ma emaknya sendiri( ga nyinggung lo lo FI, masalahnya gw jg pernah dibohongin sama nyokap: nyokap gw blg jgn makan nasi ama kripik singkong, ntar jd ular di perut.. lha? bingung kan koq bisa gt, gw salut ama nyokap gw yg bisa ngasih “pesen” se kreatif itu buat anak sd)
kedua, yg diberitahu kebenaran ( dlm hal ini kebenarannya terlalu dalam) tp ga ngerti n malah percaya ma yg bohong, itu BEGO namanya…
January 20, 2007 @ 6:16 pmjd, yg pertama di”cetak” jd bego, dan kedua yg memilih jd bego, itu terasa sama2 bego di mata gw, bego..bego,bego,bego…(lalala…^0^)