flanflygirl.wordpress.com
<

Tidak ada yang perlu dibicarakan. Saat ini aku hanya bingung bagaimana cara menjawab yang baik jika ada yang bertanya “How was your holiday?” “Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?” ada dua pilihan yang bisa kuambil untuk menjawabnya:

  1. Pertama            : Oooooh! Liburanku sangat menyenangkan! Aku pergi bersenang-senang selama liburan natal dan saat kembali aku menyadari buku akuntansi dan intro to IT menatapku dengan penuh cinta. Kemudian aku menyadari bahwa aku lupa memperpanjang buku programming principlesku sehingga aku harus membayar 6000 rupiah kepada penjaga perpustakaan yang tersenyum dengan penuh kemenangan,
  2. Kedua              : aku berkencan dengan buku akuntansiku dan melupakan kenyataan bahwa mall-mall di Jakarta sedang dipenuhi dengan hiasan-hiasan natal yang sangat indah yang bisa kulihat lagi tahun depan (jika aku tidak berkencan dengan buku tebal lainnya kali ini) beserta semua pasangan-pasangan baik normal maupun tidak normal yang berjalan bersama menikmati indahnya diskon-diskon natal dan akhir tahun. Tapi kenyataannya, aku begitu mencintai buku intro to IT ku sehingga aku tidak mau meninggalkannya satu detik pun.

Terima kasih banyak kepada universitasku yang telah sangat berjasa dan berinisiatif dalam mengambil keputusan bahwa Final Exam seharusnya dilakukan pada tanggal 8 Januari 2007 supaya murid-murid tidak melupakan kenyataan bahwa universitas yang kita jadikan tempat menabung masa depan itu masih menunggu kita dengan lift-liftnya yang akan selalu penuh.

< yakinlah tahun depan, para manusia 2011 harus membayar lebih mahal dikarenakan oleh lift yang retak diguncang-guncang oleh beberapa kakak kelasnya yang bodoh yang suka meloncat-loncat di lift – yang sebenarnya tidak akan membuat mereka turun lebih cepat, malahan mempercepat depresiasi lift – dan kemudian membuat semua anak kuliah mendapatkan fasilitas fitness gratis dengan menuruni tangga universitas. Kemudian 2 tahun mendatang akan diciptakan perosotan supaya anak kuliah yang tidak sabaran bisa langsung meluncur dari lantai atas. >

Aku tidak apa-apa kok. Tidak ada yang salah dengan otakku hingga aku menulis semua ini. Aku tidak kesal sama sekali pada universitasku < entah kenapa saat ini terbayang sebuah kampus kaca yang terbakar >. 

Aku cukup menikmati liburanku kok. Kecuali kenyataan bahwa adikku memasukkan namaku ke dalam chat battle net dotanya (+memaki-maki namaku) karena menurut teorinya yang tidak bisa kumengerti bahwa aku telah membunuhnya dengan memasangkan headset ke telinganya.

Hmm… tapi kurasa adikku cukup menikmati hidupnya. Tadi aku melihatnya memelihara seekor ayam dalam dota. Kehebatan dunia virtual reality saat ini adalah bahwa jaman sekarang kamu bisa memelihara seekor ayam untuk dijadikan alat perang dan kemudian memasangkannya equipment perang. Kalau kau melakukannya pada ayam asli, ia akan menendang dan mematukmu sehingga kau memutuskannya untuk menjadikannya lauk makanmu pada malam harinya.

Tokek di rumahku seperti biasa tetap menikmati kehidupannya yang statis. Bunyinya tetap “Tokek!”. Seakan-akan meyakinkan diri setiap malam bahwa ia masih tetap menjadi tokek keesokan harinya, dan tidak berevolusi menjadi komodo atau cicak. Sedikit keyakinanku bahwa ia tinggal di dalam speaker bass tetanggaku karena suaranya yang bisa memenuhi ruangan konser hingga semua orang yang menelponku selalu bertanya “Suara apaan tuh? Keras banget”. Tapi tetanggaku tak punya speaker bass. Jadi… mungkin tanpa sadar ia telah menelan pengeras suara yang tanpa sengaja dibuang tetanggaku.

Akhir-akhir ini ia sering tersedak. Bunyinya jadi aneh. Kadang “to,to,to,to,to,to,to… keek”, atau kadang “to… kek,kek,kek,kek”. Ini sangat mengangguku saat tidur karena aku pasti akan bangun dan tertawa terbahak-bahak, kemudian menyadari bahwa aku tak bisa tidur lagi karenanya.

Kemudian aku mulai berpikir “Tokek saja menikmati hidupnya. Masa gw ga?”. Manusia itu terlalu banyak menuntut. Padahal mereka tahu, banyak yang lebih menderita dari mereka di luar sana. Penduduk Aceh sedang kebanjiran. Penduduk Taiwan kena gempa. Ada ibu yang kehilangan anaknya dalam bencana longsor kali ini.

Terlalu banyak kesedihan dalam dunia. Aku tidak boleh mengeluh karena masalah-masalahku yang tidak seberapa. Aku tidak merasa pantas untuk mengeluh tentang pelajaranku. Aku tidak merasa pantas untuk menikmati semua yang mewah karena aku sendiri menyadari orang tuaku tidak sehebat orang tua lain dalam memaksakan laba materi dari pasar bebas atau monopoli dunia. Untuk apa aku dilahirkan? <duh, Fi… udah 19 tahun, masih mikirin itu juga. Itu pertanyaan yang ga kejawab dari sejak kecil> But anyway, life goes on. Aku telah menetapkan tujuan hidupku. Entah akan jadi sesuai dengan ramalan atau tidak. Hmm. Tapi ramalan itu sesuai dengan harapanku <gw udah berharap seperti itu sebelum diramal kok>. So, semoga terjadi seperti itu, atau minimal seperti itu. Hehe.

Terima kasih telah membaca (salam buat manusia di ITB, Pontianak, Malaysia, and Singapore yang udah ngirimin salam met ultah or merry Christmas. Miss ya all ^^). Oh, terima kasih juga buat yang udah ngucapin met ultah buat gw. Meskipun diingetin sana sini. ^^; tapi ga telat kok. Ucapan selamat terakhir aja ½ jam sebelum pagi (oleh adikku). wkkk.

“28 December 2006 – Full of Joy and Stress – ”

December 30th, 2006 at 1:25 am


2 Responses to “Christmas Memories 2006”
  1. 1
      -Alvin-II- says:

    Astaga!!!! ungkapan-ungkapan yang menyayat hati….. apa lagi soal exam january. Bangga gw pny kampus kaya gini. gege

  2. 2
      Eric says:

    wah.. berat dah tulisannya.. christmas memory koq spt ini?
    byk makna tersirat..